Tuesday, 18 February 2014

Keterampilan Dasar Mengajar

Keterampilan Dasar Mengajar

A. Pengertian Keterampilan Dasar Mengajar

Keterampilan dasar mengajar (teaching skills) adalah kemampuan atau keterampilan yang bersifat khusus (most specific instructional behaviors) yang harus dimiliki oleh guru, dosen, instruktur atau widyaiswara agar dapat melaksanakan tugas mengajar secara efektif, efisien dan profesional (As. Gilcman,1991). Dengan demikian keterampilan dasar mengajar berkenaan dengan beberapa keterampilan atau kemampuan yang bersifat mendasar dan harus dikuasai oleh tenaga pengajar dalam melaksanakan tugas mengajarnya.



Dalam mengajar ada dua kemampuan pokok yang harus dikuasai oleh seorang tenaga pengajar, yaitu;
1) Menguasai materi atau bahan ajar yang akan diajarkan (what to teach)
2) Menguasai metodologi atau cara untuk membelajarkannya (how to teach)
Keterampilan dasar mengajar termasuk kedalam aspek no 2 yaitu cara membelajarkan siswa. Keterampilan dasar mengajar mutlak harus dimiliki dan dikuasai oleh tenaga pengajar, karena dengan keterampilan dasar mengajar memberikan pengertian lebih dalam mengajar. Mengajar bukan hanya sekedar proses menyampaikan materi saja, tetapi menyangkut aspek yang lebih luas seperti pembinaan sikap, emosional, karakter, kebiasaan dan nilai-nilai.

B. Jenis-Jenis Keterampilan Dasar Mengajar


Keterampilan dasar mengajar yang harus ada pada seorang tenaga pengajar atau pendidik dapat dibedakan menjadi 8 jenis keterampilan. Keterampilan dasar mengajar tersebut adalah sebagai berikut:

1. Keterampilan Menjelaskan


a. Pengertian keterampilan menjelaskan

Keterampilan menjelasakan adalah suatu keterampilan menyajikan bahan belajar yang diorganisasikan secara sistematis sebagai suatu kesatuan yang berarti, sehingga mudah dipahami para peserta didik.
b. Prinsip-prinsip menjelaskan 
# Penjelasan harus disesuaikan dengan kemampuan dan karakteristik peserta didik 
# Penjelasan harus diselingi tanya jawab 
# Materi penjelasan harus dikuasai secara baik oleh guru 
# Penjelasan harus sesuai dengan tujuan pembelajaran 
# Materi penjelasan harus bermanfaat dan bermakna bagi peserta didik 
# Dapat menjelaskan harus disertai dengan contoh-contoh yang kongkrit dan dihubungkan dengan kehidupan 
c. Aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam menjelaskan # Bahasa yang digunakan dalam menjelaskan harus sederhana, terang dan jelas 
# Bahan yang akan diterangkan dipersiapkan dan dikuasai terlebih dahulu 
# Pokok-pokok yang diterangkan harus disimpulkan 
# Dalam menjelaskan serta dengan contoh dan ilustrasi 
# Adakan pengecekan terhadap tingkat pemahaman peserta didik melalui pertanyaan-pertanyaan 

2. Keterampilan Bertanya


a. Pengertian keterampilan bertanya

Bertanya merupakan suatu unsur yang selalu ada dalam proses komunikasi, termasuk dalam komunikasi pembelajaran. Keterampilan bertanya merupakan ucapan atau pertanyaan yang dilontarkan guru sebagai stimulus untuk memunculkan atau menumbuhkan jawaban(respon) dari peserta didik.
b. Tujuan keterampilan bertanya : 
# Memotivasi peserta didik agar terlibat dalam interaksi belajar 
# Melatih kemampuan mengutarakan pendapat 
# Merangsang dan meningkatkan kemampuan berfikir peserta didik 
# Melatih peserta didik berfikir divergen 
# Mencapai tujuan belajar 
c. Jenis-jenis pertanyaan 
# Pertanyaan langsung, yaitu pertanyaan yang ditujukan kepada salah satu peserta didik 
# Pertanyaan umum dan terbuka, yaitu pertanyaan yang ditujukan kepada seluruh kelas
# Pertanyaan retorik, yaitu pertanyaan yang tidak menghendaki jawaban 
# Pertanyaan faktual, yaitu pertanyaan untuk menggali fakta dan informasi 
# Pertanyaaan yang diarahkan kembali, yaitu pertanyaan yang dikembalikan kepada peserta didik atas pertanyaan peserta didik lain 
# Pertanyaan memimpin (Leading Question) yaitu pertanyaan yang jawabannya tersimpul dalam pertanyaan itu sendiri 
d. Prinsip-prinsip bertanya 
# Pertanyaan hendaknya mengenai satu masalah saja. Berikan waktu berfikir kepada peserta didik 
# Pertanyaan hendaknya singkat, jelas dan disusun dengan kata-kata yang sederhana 
# Pertanyaan didistribusikan secara merata kepada para peserta didik 
# Pertanyaan langsung sebaiknya diberikan secara random 
# Pertanyaan hendaknya disesuaikan dengan kemampuan dan kesiapan peserta didik 
# Sebaiknya hindari pertanyaan retorika atau leading question 
e. Teknik-teknik dalam bertanya 
# Tekhnik menunggu 
# Tekhnik menguatkan kembali 
# Tekhnik menuntun dan menggali 
# Tekhnik mekacak 

3. Keterampilan Menggunakan Variasi Stimulus


a. Pengertian keterampilan menggunakan variasi

Keterampilan menggunakan variasi stimulus merupakan keterampilan guru dalam menggunakan bermacam kemampuan dalam mengajar untuk memberikan rangsangan kepada siswa agar suasana pembelajaran selalu menarik, sehingga siswa bergairah dan antusias dalam menerima pembelajaran dan aktivitas belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif.
b. Tujuan penggunaan variasi dalam proses belajar mengajar :
# menghilangkan kejemuan dalam mengikuti proses belajar
# mempertahankan kondisi optimal belajar
# meningkatkan perhatian dan motivasi peserta didik
# memudahkan pencapaian tujuan pengajaran
c. Jenis-jenis variasi dalam mengajar
# variasi dalam penggunaan media
# variasi dalam gaya mengajar
# variasi dalam penggunaan metode
# variasi dalam pola interaksi yaitu gunakan pola interaksi multi arah
d. Prinsip-prinsip penggunaan variasi dalam pengajaran
# gunakan variasi dengan wajar, jangan dibuat-buat
# perubahan satu jenis variasi ke variasi lainnya harus efektif
# penggunaan variasi harus direncakan dan sesuai dengan bahan, metode, dan karakteristik peserta didik

4. Keterampilan Memberi Penguatan


a. Pengertian keterampilan memberi penguatan

Memberi penguatan atau reincorcement merupakan tindakan atau respon terhadap suatu bentuk perilaku yang dapat mendorong munculnya peningkatan kualitas tingkah laku tersebut di saat yang lain.
b. Tujuan penggunaan keterampilan memberi penguatan :
# Menimbulkan perhatian peserta didik
# Membangkitkan motivasi belajar peserta didik
# Menumbuhkan kemampuan berinisiatif secara pribadi
# Merangsang peserta didik berfikir yang baik
# Mengembalikan dan mengubah sikap negatif peserta dalam belajar ke arah perilaku yang mendukung belajar
c. Jenis-jenis penguatan
# Penguatan Verbal
# Penguatan Gestural
# Penguatan dengan cara mendekatinya
# Penguatan dengan cara sambutan
# Penguatan dengan memberikan kegiatan yang menyenangkan
# Penguatan berupa tanda atau benda
d. Prinsip-prinsip penguatan
# Dilakukan dengan hangat dan semangat
# Memberikan kesan positif kepada peserta didik
# Berdampak terhadap perilaku positif
# Dapat bersifat pribadi atau kelompok
# Hindari penggunaan respon negative

5. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran


a. Pengertian Keterampilan membuka dan menutup pelajaran

Keterampilan membuka pelajaran adalah usaha guru untuk mengkondisikan mental peserta didik agar siap dalam menerima pelajaran. Dalam membuka pelajaran peserta didik harus mengetahui tujuan yang akan dicapai dan langkah-langkah yang akan ditempuh.
Keterampilan menutup pelajaran adalah keterampilan guru dalam mengakhiri kegitan inti pelajaran. Dalam menutup pelajaran, guru dapat menyimpulkan materi pelajaran, mengetahui tingkat pencapaian peserta didik dan tingkat keberhasilan guna dalam proses belajar mengajar.
b. Tujuan membuka dan menutup pelajaran adalah :
# Untuk menimbulkan minat dan perhatian peserta didik terhadap pelajaran yang akan dibicarakan
# Menyiapkan mental para peserta didik agar siap memasuki persoalan yang akan dibicarakan
# Memungkinkan peserta didik mengetahui tingkat keberhasailan dalam pelajaran
# Agar peserta didik mengetahui batas-batas tugasnya yang akan dikerjakan
c. Prinsip-prinsip keterampilan membuka dan menutup pelajaran
# Dalam membuka pelajaran harus memberi makna kepada peserta didik, yaitu dengan menggunakan cara-cara yang relevan dengan tujuan dan bahan yang akan disampaikan
# Hubungan antara pendahuluan dengan inti pengajaran serta dengan tugas-tugas yang dikerjakan sebagai tindak lanjut nampak jelas dan logis
#  Menggunakan apersepsi yaitu mengenalkan pokok pelajaran dengan menghubungkannya terhadap pengetahuan yang sudah diketahui oleh peserta didik.

6. Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perseorangan


a. Pengertian mengajar kelompok kecil dan perorangan

Keterampilan mengajar kelompok kecil adalah kemampuan guru melayani kegiatan peserta didik dalam belajar secara kelompok dengan jumlah peserta didik berkisar antara 3 hingga 5 orang atau paling banyak 8 orang untuk setiap kelompoknya.
Sedangkan keterampilan dalam pengajaran perorangan atau pengajaran individual adalah kemampuan guru dalam mennetukan tujuan, bahan ajar, prosedur dan waktu yang digunakan dalam pengajaran dengan memperhatikan tuntutan-tuntutan atau perbedaan-perbedaan individual peserta didik.
b. Tujuan guru mengembangkan keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan
# Keterampilan dalam pendekatan pribadi
# Keterampilan dalam mengorganisasi
# Keterampilan dalam membimbing belajar
# Keterampilan dalam merencakan dan melaksanakan KBM

7. Keterampilan Mengelola Kelas


a. Pengertian keterampilan mengelola kelas

Keterampilan mengelola kelas merupakan kemampuan guru dalam mewujudkan dan mempertahankan suasana belajar mengajar yang optimal.
b. Tujuan dari pengelolaan kelas adalah :
# Mewujudkan situasi dan kondisi kelas yang memungkinkan peserta didik memgembangkan kemampuannya secara optimal
# Menghilangkan berbagai hambatan dan pelanggaran disipilin yang dapat merintangi terwujudnya interaksi belajar mengajar
# Mempertahankan keadaan yang stabil dalam susana kelas, sahingga bila terjadi gangguan dalam belajar mengajar dapat dikurangi dan dihindari
# Melayani dan membimbing perbedaan individual peserta didik
# Mengatur semua perlengkapan dan peralatan yang memungkinkan peserta didik belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional dan intelektual peserta didik dalam kelas.
c. Prinsip-prinsip Pengelolaan Kelas
# Keluwesan, digunakan apabila guru mendapatkan hambatan dalam perilaku peserta didik, sehingga guru dapat merubah strategi mengajarnya
# Kehangatan dan keantusiasan
# Bervariasi, gunakan variasi dalam proses belajar mengajar
# Tantangan, gunakan kata-kata, tindakan atau bahan sajian yang menantang
# Tanamkan displin diri, selalu mendorong peserta didik agar memiliki disipin diri
# Menekankan hal-hal positif, memikirkan hal positif dan menghindarkan konsentrasi pada hal negatif
d. Komponen Keterampilan Pengelolaan Kelas
# Keterampilan yang bersifat preventif guru dapat menggunakan kemampuannya dengan cara :
# Memusatkan perhatian
# Menunjukkan sikap tanggap
# Menegur
# Membagi perhatian
# Memberi petunjuk-petunjuk yang jelas
# Memberi penguatan
# Keterampilan megelola kelas yang bersifat represif, guru dapat menggunakan keterampilan dengan cara :
   · Pengelolaan kelompok
   · Modifikasi tingkah laku
   · Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah
e. Hal-hal yang harus dihindari dalam mengembangkan keterampilan mengelola kelas :
# Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan
# Pengulangan penjelasan yang tidak perlu
# Penyimpangan
# Kesenyapan
# Bertele-tele

8. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil


a. Pengertian

Diskusi kelompok kecil adalah suatu proses belajar yang dilakukan dalam kerja sama kelompok bertujuan memecahkan suatu permasalahan, mengkaji konsep, prinsip atau kelompok tertentu. Untuk itu guru memiliki peran sangat penting sebagai pembimbing agar proses diskusi dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pembelajaran.
b. Prinsip-prinsip membimbing diskusi kelompok kecil :
# Laksanakan diskusi dalam suasana yang menyenangkan
# Berikan waktu yang cukup untuk merumuskan dan menjawab permasalahan
# Rencanakan diskusi kelompok dengan sistematis
# Bimbinglah dan jadikanlah diri guru sebagai teman dalam diskusi
c. Komponen keterampilan guru dalam megembangkan pembimbingan kelompok kecil :
# Memperjelas permasalahan
# Menyebarkan kesempatan berpartisipasi
# Pemusatan perhatian
# Menganalisa pandangan peserta didik
# Meningkatkan urutan pikiran peserta didik
# Menutup diskusi
d. Hal-hal yang harus dihindari dalam membimbing diskusi kelompok kecil :
# Melaksanakan diskusi yang tidak sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik
# Tidak memberikan kesempatan yang cukup kepada peserta didik untuk memikirkan pemecahan masalah
# Membiarkan diskusi dikuasai oleh peserta didik tertentu
# Membiarkan peserta didik mengemukakan pendapat yang tidak ada kaitannya dengan topik pembicaraan
# Membiarkan peserta didik tidak aktif
# Tidak merumuskan hasil diskusi dan tiadak membentuk tindak lanjut

Monday, 17 February 2014

Pendidikan Nasional

Sarjana Non Kependidikan Boleh Jadi Guru
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengizinkan sarjana non kependidikan menjadi guru. Nantinya sarjana lulusan di luar FKIP (fakultas keguruan dan ilmu pendidikan) ini akan bersaing dengan sarjana mengambil jurusan kependidikan untuk menjadi guru profesional. 

Kebijakan ini tertuang dalam Permendikbud nomor 87 tahun 2013 tentang Pendidikan Profesi Guru Prajabatan (PPG). Untuk menjadi guru, sarjana non kependidikan diwajibkan mengikuti saringan masuk PPG seperti halnya sarjana kependidikan. Sarjana lulusan di luar FKIP itu bebas mengajar mulai dari jenjang TK, SD, SMP, sampai SMA/sederajat.

Syarat yang dipenuhi sarjana non kependidikan untuk bisa menjadi guru, mereka harus mengikuti dan lulus program matrikulasi sebelum mengikuti PPG. Bagi sarjana pendidikan yang linier atau sesuai dengan mata pelajaran yang bakal diampu dapat langsung mengikuti PPG.

Dilansir oleh SekolahDasar.Net dari JPNN (12/02/2014), Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistyo berpendapat calon guru yang sudah kuliah selama empat tahun di FKIP, sejatinya masih perlu ditingkatkan. Apalagi untuk sarjana non kependidikan, yang baru mendalami urusan kependidikan setelah dia lulus kuliah.

Menurutnya sejak awal calon guru harus memiliki niat yang mantap untuk menjadi guru. Sedangkan sarjana non kependidikan, ketika masuk kuliah belum tentu berniat menjadi guru. Jangan sampai karena tergiur penghasilan yang besar, atau karena sulit mecari pekerjaan sesuai dengan bidang keilmuannya lalu ingin menjadi guru. 

Sumber: http://www.sekolahdasar.net/2014/02/sarjana-non-kependidikan-boleh-menjadi-guru.html#ixzz2tdcBDRoY

Pendidikan Karakter

Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Ahli

Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character education)  dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek,penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas, oleh karena itu betapa pentingnya pendidikan karakter.
Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakanbahwa karakter yang baikdidukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Bagan dibawah ini merupakan bagan kterkaitan ketiga kerangka pikir ini.
 Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Ahli

Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Ahli

1.  Pendidikan Karakter Menurut Lickona
Secara sederhana, pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Tetapi untuk mengetahui pengertian yang tepat, dapat dikemukakan di sini definisi pendidikan karakter yang disampaikan oleh Thomas Lickona. Lickona menyatakan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.
2.  Pendidikan Karakter Menurut Suyanto
Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara.
3.  Pendidikan Karakter Menurut Kertajaya
Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu (Kertajaya, 2010).
4.  Pendidikan Karakter Menurut Kamus Psikologi
Menurut  kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982: p.29).

Nilai-nilai dalam pendidikan karakter

Ada 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu , Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta tanah air, Menghargai prestasi, Bersahabat/komunikatif,Cinta Damai, Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli social, Tanggung jawab.
Lebih jelas tentang nilai-nilai pendidikan karakter dapat di lihat pada bagan dibawah ini
nilai-nilai pendidikan karakter
18 Nilai Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter telah menjadi perhatian berbagai negara dalam rangka mempersiapkan generasi yang berkualitas, bukan hanya untuk kepentingan individu warga negara, tetapi juga untuk warga masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character development (usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah/madrasah untuk membantu pembentukan karakter secara optimal.
Pendidikan karakter memerlukan metode khusus yang tepat agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Di antara metode pembelajaran yang sesuai adalah metode keteladanan,  metode pembiasaan, dan metode pujian dan hukuman.

Nah demikianlah beberapa pengertian pendidikan karakter menurut para ahli, semoga bermanfaat.



Read more: PENDIDIKAN KARAKTER : Pengertian Pendidikan Karakter