Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Wednesday, 21 May 2014

PENGERTIAN MURID CERDAS Cerdas merupakan kemampuan untuk memecahkan masalah dan menciptakan produk yang bernilai budaya. (Howard Gardner) Murid / anak cerdas dalam istilah berbahasa Inggris disebut Bright Child. Ia berbeda dengan anak-anak gifted (berbakat), karena Bright Children (anakcerdas ) sekalipun ia mempunyai IQ melebihi rata-rata, namun Bright Children mempunyai kreativitas sebagaimana anak-anak pada umumnya. 
1 PENGERTIAN ANAK BERBAKAT Yaitu anak-anak yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata anak normal, dengan batasan IQ di atas 130, dengan kreativitas, motivasi dan ketahanan kerjayang tinggi (menurut Renzuli). Selain itu juga dapat diartikan anak yang oleh orang-orang profesional diidentifikasikan sebagai anak yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul (Utami Munandar).

Friday, 25 April 2014

Menggugat Soal Obyektif UN

“Persoalannya bukan teknis melainkan efektivitas, pelaksanaan, dan hasil yang diragukan banyak pihak”
SISWA SMP dan SMA,  termasuk di Jateng, saat ini tengah bersiap-siap menghadapi ujian nasional (UN), untuk tingkat SMA/ sederajat pada 14-16 April dan jenjang SMP/sederajat pada 5-8 Mei mendatang. Untuk melaksanakan ’’ritual’’ tersebut, siswa telah melakukan berbagai persiapan. Ada yang belajar semalam suntuk, berdoa dan shalat bersama di sekolah, sampai meminta petunjuk orang pintar.
Sebagian dari mereka yang memiliki uang berlebih memilih mengikuti bimbingan belajar (bimbel) supaya mendapatkan berbagai strategi jitu menyiasati soal ujian. Mereka tidak perlu menggunakan rumus yang sangat rumit dan melelahkan. Mereka bahkan diajarkan bagaimana menjawab soal (materi mapel) lewat ’’jalan tol’’ bebas hambatan, tidak perlu berputar-putar, karena yang penting ’’jawabannya benar’’.
Persoalan ujian nasional memang penuh misteri sekaligus butuh strategi. Pemerintah tidak pernah memedulikan bagaimana cara siswa bisa menjawab soal dengan benar. Baginya, yang penting bukan ’’apakah siswa tahu secara pasti dari mana jawaban soal itu’’ melainkan ’’siswa berhasil menghitamkan kotak jawaban yang dianggap benar oleh para pembuat soal’’.
Tidak ada pula yang memedulikan bila ternyata jawaban tersebut benar karena’’asal menghitamkan’’, atau semata-mata karena keberuntungan masih berpihak pada siswa tersebut. Inilah ujian yang diselesaikan melalui ajang tebak-tebakan jawaban. Realitas itu sekaligus cermin yang memperlihatkan bagaimana sebuah proses pengujian kualitas hasil belajar yang lebih mementingkan hasil ketimbang proses. Karena itu, bentuk soal pilihan ganda menjadi senjata utama yang ditawarkan banyak pengelola bimbingan belajar kepada para siswa yang’’kebingungan’’ menghadapi ujian nasional.
Dengan bentuk soal seperti itu, berbagai strategi mudah dirumuskan. Tentu akan berbeda 180 derajat manakala soal ujian nasional disusun dalam bentuk uraian atau essai. Soal pilihan ganda adalah materi yang dianggap sangat efektif untuk mengukur banyak aspek sekaligus dalam waktu ujian yang terbatas, terutama aspek kognitif siswa.
Dalam tempo 90-120 menit, siswa dihadapkan pada 60 sampai 100 soal. Pengoreksiannya pun tidak butuh waktu lama karena panitia ujian cukup mengandalkan mesin pemindai. Dalam hitungan hari, hasil ujian dapat dipublikasikan.  Alhasil kegagalan siswa akibat masalah teknis saat mengisi lembar jawab komputer (LJK) jadi persoalan serius.
Hanya karena LJK kotor atau basah terkena keringat, menghitamkannya tidak sempurna, siswa bisa mengalami kegagalan yang berujung fatal. Pilihan ganda adalah bentuk soal yang dianggap paling objektif mengingat mudah membedakan jawaban benar atau salah. Asumsinya adalah dalam satu soal hanya ada satu jawaban yang benar.
Selain kelebihan soal pilihan ganda yang dianggap efektif dan objektif, bentuk soal ini sebenarnya membatasi ruang berpikir siswa dalam menginterpretasi. Adalah hal yang tidak dapat disangkal bahwa soal-soal untuk mapel noneksakta bersifat multiinterpretasi. Mapel tersebut seharusnya memberikan ruang bagi siswa untuk berpikir secara kritis dan kreatif.
Dalam mata pelajaran Sosiologi misalnya, menganalisis fenomena atau gejala sosial dengan hanya mengandalkan satu sudut pandang adalah sebuah hal yang sangat naif. Gejala sosial adalah multiinterpretatif. Karena itu, mengukur hasil belajar sosiologi dengan menggunakan soal pilihan ganda sama artinya dengan memaksakan satu sudut pandang.
Siswa dipaksa memaknai soal menurut pemahaman si pembuat soal. Akibatnya, si pembuat soal secara tidak langsung telah menyatakan bahwa pendapat atau analisis dialah yang paling benar. Memahami ’’makan dengan memakai tangan kiri’’ sebagai contoh bentuk perilaku menyimpang adalah pandangan sempit. Perilaku menyimpang bersifat sangat relatif.
Reformasi UN
Selama ujian nasional masih mengandalkan soal pilihan ganda maka selama itu pula kontroversi ujian tersebut selalu mengemuka tiap tahun. Dugaan kebocoran soal dan aksi sontek-menyontek tersistematis adalah efek dominonya. Bila pemerintah berupaya mengubah bentuk soal ini maka berbagai pendapat miring mengenai ujian nasional dapat diminimalisasi.  Berikutnya, bentuk soal ini tidak dapat menggambarkan kemampuan holistik siswa. Untuk menjawab soal ini siswa dapat ’’menggantungkan nasibnya’’ pada keberuntungan. Dengan kata lain, ini rawan dengan jawaban benar karena asal menjawab.
Terakhir, soal pilihan ganda telah mengajarkan siswa untuk berpikir  instan dan penuh trik jitu. Siswa tidak perlu tahu bagaimana cara menjawab soal tersebut karena ia hanya perlu tahu bagaimana strateginya. Memang, mengaplikasikan soal esai dalam ujian nasional memerlukan biaya yang tidak sedikit. Tapi menjaga kualitas lulusan sebuah lembaga pendidikan memang perlu membayar mahal ketimbang pemerintah selalu menginvestasikan dana miliaran rupiah dengan hasil yang tidak jelas dan selalu menuai kontroversi.
Hasil Konvensi UN akhir September 2013 hanya mengkritisi masalah teknis pencetakan, pendistribusian, dan penjagaan soal. Ini menunjukkan pemerintah tak memahami akar masalah ujian nasional yang selalu menuai kritik dari masyarakat. Masalah intinya bukan pada teknis melainkan pada efektivitas, pelaksanaan, dan hasil yang masih diragukan banyak pihak.
Nanang Martono  ;   Dosen Sosiologi Pendidikan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Kandidat doktor Universitas Lumiere Lyon 2 Prancis
SUARA MERDEKA, 11 April 2014

Saturday, 15 March 2014

Ujian Sekolah Jadi Pengganti Ujian Nasional untuk Siswa SD

Ujian Sekolah Jadi Pengganti Ujian Nasional untuk Siswa SD



TRIBUN.COM, JAKARTA - Wakil Menteri Bidang Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Musliar Kasim, mengimbau para siswa sekolah dasar tidak malas belajar untuk menghadapi Ujian Sekolah/Madrasah (USM) sebagai pengganti Ujian Nasional (UN).

Tahun ini UN 2014 untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah ditiadakan. Nantinya, hasil USM tersebut akan digunakan sebagai tolok ukur untuk dapat menempuh ke jenjang berikutnya, yakni Sekolah Menengah Pertama (SMP).

"Nilai US akan digunakan untuk diterima masuk sekolah. Karena itu, siswa tak boleh malas. Kalau US-nya rendah, dia tak bisa masuk ke sekolah favorit yang dituju," kata Musliar, Jumat (14/3/2014).
Musliar menuturkan, peniadaan pelaksaan UN 2014 terkait dengan pendidikan dasar 9 tahun yang dicanangkan pemerintah. Pendidikan dasar dan menengah, dalam hal ini SD dan SMP, dianggap merupakan kesatuan pendidikan yang berkesinambungan.

Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Kabalitbang) Kemendikbud, Furqon, mengatakan USM merupakan pengalihfungsian UN di tingkat SD. "Ujian US dengan UN itu sama fungsinya, hanya beda pada pembuatannya. Jika UN dibuat dengan dikoordinir oleh pemerintah secara nasional, UN dikoordinasi oleh provinsi, namun tetap dengan kisi-kisi yang dibuat secara nasional," katanya.

Nantinya, untuk kelulusan siswa nantinya, lanjut Furqon, akan diserahkan sepenuhnya kepada tingkat satuan pendidikan, dalam hal ini adalah oleh pihak sekolah. Sedangkan untuk teknis pelaksanaannya, Plt Kepala Puspendik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Nizam, lain lagi
.
"Pemerintah pusat akan menitip 25 persen soal pada masing-masing tiga mata pelajaran, yakni Bahasa Indonesia, Matematika dan Sains. Kita titipkan itu untuk pemetaan kompetensi secara nasional," ujarnya.

Nizam mengatakan, hasil akhir pemetaan itu nantinya digunakan oleh kementerian untuk melakukan pembinaan. Pembinaan dibutuhkan jika ada sekolah memiliki kompetensi rendah pada bidang tertentu.

"Misalnya, rata-rata satu sekolah memiliki nilai Bahasa Indonesia 7, tapi kemampuan membaca essai rendah. Nanti kita cari sebabnya, apakah karena gurunya kurang menguasai atau karena bahan bacaan mereka kurang. Tapi, kalau ternyata gurunya kurang menguasai, nanti kita adakan pembinaan baik di tingkat sekolah, provinsi atau nasional," pa

Friday, 14 March 2014

Potret Pendidikan di Perbatasan Negeri Malaysia Timur – Brunei Darusalam

Potret Pendidikan di Perbatasan Negeri Malaysia Timur – Brunei Darusalam


1391507974667434021
Salah Satu Sekolah Dasar Negeri di Wilayah Perbatasan

13915081021039334185

        Bila kita melihat di Peta Indonesia, Daerah – daerah dan pulau – pulau yang ada di Indonesia sangat banyak berbatasan langsung dengan Negara lain seperti Malaysia, Singapore, Brunei Darusalam, Filiphina, Myanmar, Australia, Timor leste, dan lainnya.
     Diantara pulau Indonesia yang banyak berbatasan dengan Negara tetangga adalah pulau Kalimantan khususnya Kalimantan Utara. Bila kita berkunjung ke Kalimantan utara, jangan lupa sempatkan berkunjung ke pulau sebatik. Pulau terluar Indonesia. Dimana disana Indonesia berbatasan langsung dengan Serawak  kucing, Malaysia timur.  Bahkan di pulau sebatik tersebut ada rumah warga yang area depannya itu Indonesia dan area dapur belakangnya milik Malaysia. Ada yang pernah bilang bahwa kalau tidurnya di Indonesia sedangkan memasak dan makannya di Malaysia. Karena apa? Karena bagian kamar tidurnya terletak di wilayah Indonesia sedangkan wilayah dapurnya terletak di wilayah Malaysia, sangat menarik ya.
Selain itu, dari beberapa sumber dari warga yang saya dapatkan langsung bahwa bila berkunjung ke daerah Malinau, Kalimantan Utara dan terus keutaranya kita akan sampai di Negara Malaysia – Sarawak Kucing dan Negara Brunei Darusalam.
Perkembangan Negara tetangga tersebut sangat jauh berbeda dengan perkembangan di Indonesia terlebih di wilayah perbatasan.  Jangankan masalah ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, masalah pendidikan pun sangat jauh tertinggal. Hal inilah yang saya dapatkan ketika 1 minggu mengadakan pelatihan komputer dasar bagi guru – guru sekolah dasar di Kalimantan Utara tepatnya Desa Karang Agung, Kecamatan Tanjung Palas Utara.  Banyak diantara tenaga pengajar disana yang masih minim ilmu tentang dunia IT.  Jangankan untuk mengoperasikan komputer dengan baik, menghidupkan laptop, menjalankan program dan bagaimana mengetikpun mereka masih bingung.  Banyak diantara mereka mengakui bahwa usia yang sudah semakin tua, daya serap yang sudah sangat kurang, serta mata yang sudah tidak lagi berfungsi dengan baik menjadi faktor utama bagi mereka kesulitan untuk mengoperasikan laptop dengan baik.
1391508172144455761
                        Suasana Pelatihan Komputer di SDN 008 Karang Agung
         Ada diantara mereka yang belum pernah mengetik sama sekali, bahkan ada yang belum pernah menggunakan laptop. Mungkin waktu pelatihan komputer itulah mereka baru memulai menggunakannya. Ketika saya menanyakan kepada nya, beliau menjawab “ Selama ini laptop di pakai oleh anak saya,pak. Untuk mendengarkan music dan nonton video.
Begitulah segelintir potret pendidikan di wilayah perbatasan negeri ini, Kalimantan Utara. Masih banyak tugas yang musti kita selesaikan dan kita capai untuk menciptakan pendidikan yang baik dan sesuai dengan yang diharapkan.
139150823570601418
Kondisi jalanan di Kalimantan Utara
1391508403581568635
         Selain dari tenaga pengajar, kondisi jalan lalu lintas pun masih menjadi kendala bagi siswa atau guru untuk pulang maupun berangkat ke sekolah. Masih banyak jalan lalu lintas yang berlubang, kerikil bahkan lumpur. Untuk transportasi umumpun sangat jarang ditemukan. Bila kita ingin berpergian dari satu tempat ke tempat lain, umumnya warga sekitar menggunakan sepeda motor. Semoga dengan terbentuknya sebuah provinsi baru di wilayah perbatasan Malaysia dan brunei darusalam ini yakni Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat menuju kehidupan dan pendidikan yang lebih baik. Aamiin Ya Rabbal Aalamiin.
Tanjung Selor, 3 Februari 2014

Wednesday, 19 February 2014

Gerakan Pendidikan

Gerakan 1.000 Alat Tulis untuk Anak-anak di Pedalaman NTT


      Pendidikan adalah tolak ukur kemajuan suatu bangsa. Semakin berkualitas pendidikan yang diberikan kepada penduduknya maka semakin maju pula negara tersebut.
Pemerataan pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya tercapai. Banyak fasilitas pendidikan masih terpusat di kota-kota besar, sedangkan untuk daerah pelosok masih termarginalkan. Hal ini sangatlah disayangkan, karena seharusnya fasilitas pendidikan di desa sama dengan yang ada dikota-kota
besar.
      Akibat dari fasilitas pendidikan yang belum merata tersebut, menjadikan ketimpangan kualitas sumber daya manusia antara di daerah dan di kota. Inilah yang menjadikan Indonesia tertinggal dari negara lainnya. Hal ini tidak bisa diabaikan, karena pemerataan pendidikan memegang peran penting untuk meningkatkan perekonomian Indonesia ke depan.
        Pemerintah, swasta, NGO, dan berbagai element wajib bersama-sama berperan dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Wujud nyata itu harus di jalankan dalam bentuk tindakan bukan hanya sekedar ucapan atau janji-janji belaka.
Dalam mewujukan aksi nyata ini lahirlah program adik asuh. Program adik asuh ini sudah di jalankan di beberapa kota, di antaranya di Cililin Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Agar gerakan kami meluas dan bisa dirasakan oleh anak-anak di Indonesia, Ayo Berbuat Baik! Bersama para Sahabat dari Sedekahpendidikan.org dan SM3T – Angkatan II (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Tertinggal & Terluar) Menyalurkan bantuan berupa paket alat sekolah untuk anak-anak di pedalaman Nusa Tenggara Timur. Bantuan ini bertujuan untuk memberikan semangat kepada anak-anak agar semakin giat dalam belajar.
     

Tuesday, 18 February 2014

Keterampilan Dasar Mengajar

Keterampilan Dasar Mengajar

A. Pengertian Keterampilan Dasar Mengajar

Keterampilan dasar mengajar (teaching skills) adalah kemampuan atau keterampilan yang bersifat khusus (most specific instructional behaviors) yang harus dimiliki oleh guru, dosen, instruktur atau widyaiswara agar dapat melaksanakan tugas mengajar secara efektif, efisien dan profesional (As. Gilcman,1991). Dengan demikian keterampilan dasar mengajar berkenaan dengan beberapa keterampilan atau kemampuan yang bersifat mendasar dan harus dikuasai oleh tenaga pengajar dalam melaksanakan tugas mengajarnya.



Dalam mengajar ada dua kemampuan pokok yang harus dikuasai oleh seorang tenaga pengajar, yaitu;
1) Menguasai materi atau bahan ajar yang akan diajarkan (what to teach)
2) Menguasai metodologi atau cara untuk membelajarkannya (how to teach)
Keterampilan dasar mengajar termasuk kedalam aspek no 2 yaitu cara membelajarkan siswa. Keterampilan dasar mengajar mutlak harus dimiliki dan dikuasai oleh tenaga pengajar, karena dengan keterampilan dasar mengajar memberikan pengertian lebih dalam mengajar. Mengajar bukan hanya sekedar proses menyampaikan materi saja, tetapi menyangkut aspek yang lebih luas seperti pembinaan sikap, emosional, karakter, kebiasaan dan nilai-nilai.

B. Jenis-Jenis Keterampilan Dasar Mengajar


Keterampilan dasar mengajar yang harus ada pada seorang tenaga pengajar atau pendidik dapat dibedakan menjadi 8 jenis keterampilan. Keterampilan dasar mengajar tersebut adalah sebagai berikut:

1. Keterampilan Menjelaskan


a. Pengertian keterampilan menjelaskan

Keterampilan menjelasakan adalah suatu keterampilan menyajikan bahan belajar yang diorganisasikan secara sistematis sebagai suatu kesatuan yang berarti, sehingga mudah dipahami para peserta didik.
b. Prinsip-prinsip menjelaskan 
# Penjelasan harus disesuaikan dengan kemampuan dan karakteristik peserta didik 
# Penjelasan harus diselingi tanya jawab 
# Materi penjelasan harus dikuasai secara baik oleh guru 
# Penjelasan harus sesuai dengan tujuan pembelajaran 
# Materi penjelasan harus bermanfaat dan bermakna bagi peserta didik 
# Dapat menjelaskan harus disertai dengan contoh-contoh yang kongkrit dan dihubungkan dengan kehidupan 
c. Aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam menjelaskan # Bahasa yang digunakan dalam menjelaskan harus sederhana, terang dan jelas 
# Bahan yang akan diterangkan dipersiapkan dan dikuasai terlebih dahulu 
# Pokok-pokok yang diterangkan harus disimpulkan 
# Dalam menjelaskan serta dengan contoh dan ilustrasi 
# Adakan pengecekan terhadap tingkat pemahaman peserta didik melalui pertanyaan-pertanyaan 

2. Keterampilan Bertanya


a. Pengertian keterampilan bertanya

Bertanya merupakan suatu unsur yang selalu ada dalam proses komunikasi, termasuk dalam komunikasi pembelajaran. Keterampilan bertanya merupakan ucapan atau pertanyaan yang dilontarkan guru sebagai stimulus untuk memunculkan atau menumbuhkan jawaban(respon) dari peserta didik.
b. Tujuan keterampilan bertanya : 
# Memotivasi peserta didik agar terlibat dalam interaksi belajar 
# Melatih kemampuan mengutarakan pendapat 
# Merangsang dan meningkatkan kemampuan berfikir peserta didik 
# Melatih peserta didik berfikir divergen 
# Mencapai tujuan belajar 
c. Jenis-jenis pertanyaan 
# Pertanyaan langsung, yaitu pertanyaan yang ditujukan kepada salah satu peserta didik 
# Pertanyaan umum dan terbuka, yaitu pertanyaan yang ditujukan kepada seluruh kelas
# Pertanyaan retorik, yaitu pertanyaan yang tidak menghendaki jawaban 
# Pertanyaan faktual, yaitu pertanyaan untuk menggali fakta dan informasi 
# Pertanyaaan yang diarahkan kembali, yaitu pertanyaan yang dikembalikan kepada peserta didik atas pertanyaan peserta didik lain 
# Pertanyaan memimpin (Leading Question) yaitu pertanyaan yang jawabannya tersimpul dalam pertanyaan itu sendiri 
d. Prinsip-prinsip bertanya 
# Pertanyaan hendaknya mengenai satu masalah saja. Berikan waktu berfikir kepada peserta didik 
# Pertanyaan hendaknya singkat, jelas dan disusun dengan kata-kata yang sederhana 
# Pertanyaan didistribusikan secara merata kepada para peserta didik 
# Pertanyaan langsung sebaiknya diberikan secara random 
# Pertanyaan hendaknya disesuaikan dengan kemampuan dan kesiapan peserta didik 
# Sebaiknya hindari pertanyaan retorika atau leading question 
e. Teknik-teknik dalam bertanya 
# Tekhnik menunggu 
# Tekhnik menguatkan kembali 
# Tekhnik menuntun dan menggali 
# Tekhnik mekacak 

3. Keterampilan Menggunakan Variasi Stimulus


a. Pengertian keterampilan menggunakan variasi

Keterampilan menggunakan variasi stimulus merupakan keterampilan guru dalam menggunakan bermacam kemampuan dalam mengajar untuk memberikan rangsangan kepada siswa agar suasana pembelajaran selalu menarik, sehingga siswa bergairah dan antusias dalam menerima pembelajaran dan aktivitas belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif.
b. Tujuan penggunaan variasi dalam proses belajar mengajar :
# menghilangkan kejemuan dalam mengikuti proses belajar
# mempertahankan kondisi optimal belajar
# meningkatkan perhatian dan motivasi peserta didik
# memudahkan pencapaian tujuan pengajaran
c. Jenis-jenis variasi dalam mengajar
# variasi dalam penggunaan media
# variasi dalam gaya mengajar
# variasi dalam penggunaan metode
# variasi dalam pola interaksi yaitu gunakan pola interaksi multi arah
d. Prinsip-prinsip penggunaan variasi dalam pengajaran
# gunakan variasi dengan wajar, jangan dibuat-buat
# perubahan satu jenis variasi ke variasi lainnya harus efektif
# penggunaan variasi harus direncakan dan sesuai dengan bahan, metode, dan karakteristik peserta didik

4. Keterampilan Memberi Penguatan


a. Pengertian keterampilan memberi penguatan

Memberi penguatan atau reincorcement merupakan tindakan atau respon terhadap suatu bentuk perilaku yang dapat mendorong munculnya peningkatan kualitas tingkah laku tersebut di saat yang lain.
b. Tujuan penggunaan keterampilan memberi penguatan :
# Menimbulkan perhatian peserta didik
# Membangkitkan motivasi belajar peserta didik
# Menumbuhkan kemampuan berinisiatif secara pribadi
# Merangsang peserta didik berfikir yang baik
# Mengembalikan dan mengubah sikap negatif peserta dalam belajar ke arah perilaku yang mendukung belajar
c. Jenis-jenis penguatan
# Penguatan Verbal
# Penguatan Gestural
# Penguatan dengan cara mendekatinya
# Penguatan dengan cara sambutan
# Penguatan dengan memberikan kegiatan yang menyenangkan
# Penguatan berupa tanda atau benda
d. Prinsip-prinsip penguatan
# Dilakukan dengan hangat dan semangat
# Memberikan kesan positif kepada peserta didik
# Berdampak terhadap perilaku positif
# Dapat bersifat pribadi atau kelompok
# Hindari penggunaan respon negative

5. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran


a. Pengertian Keterampilan membuka dan menutup pelajaran

Keterampilan membuka pelajaran adalah usaha guru untuk mengkondisikan mental peserta didik agar siap dalam menerima pelajaran. Dalam membuka pelajaran peserta didik harus mengetahui tujuan yang akan dicapai dan langkah-langkah yang akan ditempuh.
Keterampilan menutup pelajaran adalah keterampilan guru dalam mengakhiri kegitan inti pelajaran. Dalam menutup pelajaran, guru dapat menyimpulkan materi pelajaran, mengetahui tingkat pencapaian peserta didik dan tingkat keberhasilan guna dalam proses belajar mengajar.
b. Tujuan membuka dan menutup pelajaran adalah :
# Untuk menimbulkan minat dan perhatian peserta didik terhadap pelajaran yang akan dibicarakan
# Menyiapkan mental para peserta didik agar siap memasuki persoalan yang akan dibicarakan
# Memungkinkan peserta didik mengetahui tingkat keberhasailan dalam pelajaran
# Agar peserta didik mengetahui batas-batas tugasnya yang akan dikerjakan
c. Prinsip-prinsip keterampilan membuka dan menutup pelajaran
# Dalam membuka pelajaran harus memberi makna kepada peserta didik, yaitu dengan menggunakan cara-cara yang relevan dengan tujuan dan bahan yang akan disampaikan
# Hubungan antara pendahuluan dengan inti pengajaran serta dengan tugas-tugas yang dikerjakan sebagai tindak lanjut nampak jelas dan logis
#  Menggunakan apersepsi yaitu mengenalkan pokok pelajaran dengan menghubungkannya terhadap pengetahuan yang sudah diketahui oleh peserta didik.

6. Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perseorangan


a. Pengertian mengajar kelompok kecil dan perorangan

Keterampilan mengajar kelompok kecil adalah kemampuan guru melayani kegiatan peserta didik dalam belajar secara kelompok dengan jumlah peserta didik berkisar antara 3 hingga 5 orang atau paling banyak 8 orang untuk setiap kelompoknya.
Sedangkan keterampilan dalam pengajaran perorangan atau pengajaran individual adalah kemampuan guru dalam mennetukan tujuan, bahan ajar, prosedur dan waktu yang digunakan dalam pengajaran dengan memperhatikan tuntutan-tuntutan atau perbedaan-perbedaan individual peserta didik.
b. Tujuan guru mengembangkan keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan
# Keterampilan dalam pendekatan pribadi
# Keterampilan dalam mengorganisasi
# Keterampilan dalam membimbing belajar
# Keterampilan dalam merencakan dan melaksanakan KBM

7. Keterampilan Mengelola Kelas


a. Pengertian keterampilan mengelola kelas

Keterampilan mengelola kelas merupakan kemampuan guru dalam mewujudkan dan mempertahankan suasana belajar mengajar yang optimal.
b. Tujuan dari pengelolaan kelas adalah :
# Mewujudkan situasi dan kondisi kelas yang memungkinkan peserta didik memgembangkan kemampuannya secara optimal
# Menghilangkan berbagai hambatan dan pelanggaran disipilin yang dapat merintangi terwujudnya interaksi belajar mengajar
# Mempertahankan keadaan yang stabil dalam susana kelas, sahingga bila terjadi gangguan dalam belajar mengajar dapat dikurangi dan dihindari
# Melayani dan membimbing perbedaan individual peserta didik
# Mengatur semua perlengkapan dan peralatan yang memungkinkan peserta didik belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional dan intelektual peserta didik dalam kelas.
c. Prinsip-prinsip Pengelolaan Kelas
# Keluwesan, digunakan apabila guru mendapatkan hambatan dalam perilaku peserta didik, sehingga guru dapat merubah strategi mengajarnya
# Kehangatan dan keantusiasan
# Bervariasi, gunakan variasi dalam proses belajar mengajar
# Tantangan, gunakan kata-kata, tindakan atau bahan sajian yang menantang
# Tanamkan displin diri, selalu mendorong peserta didik agar memiliki disipin diri
# Menekankan hal-hal positif, memikirkan hal positif dan menghindarkan konsentrasi pada hal negatif
d. Komponen Keterampilan Pengelolaan Kelas
# Keterampilan yang bersifat preventif guru dapat menggunakan kemampuannya dengan cara :
# Memusatkan perhatian
# Menunjukkan sikap tanggap
# Menegur
# Membagi perhatian
# Memberi petunjuk-petunjuk yang jelas
# Memberi penguatan
# Keterampilan megelola kelas yang bersifat represif, guru dapat menggunakan keterampilan dengan cara :
   · Pengelolaan kelompok
   · Modifikasi tingkah laku
   · Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah
e. Hal-hal yang harus dihindari dalam mengembangkan keterampilan mengelola kelas :
# Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan
# Pengulangan penjelasan yang tidak perlu
# Penyimpangan
# Kesenyapan
# Bertele-tele

8. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil


a. Pengertian

Diskusi kelompok kecil adalah suatu proses belajar yang dilakukan dalam kerja sama kelompok bertujuan memecahkan suatu permasalahan, mengkaji konsep, prinsip atau kelompok tertentu. Untuk itu guru memiliki peran sangat penting sebagai pembimbing agar proses diskusi dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pembelajaran.
b. Prinsip-prinsip membimbing diskusi kelompok kecil :
# Laksanakan diskusi dalam suasana yang menyenangkan
# Berikan waktu yang cukup untuk merumuskan dan menjawab permasalahan
# Rencanakan diskusi kelompok dengan sistematis
# Bimbinglah dan jadikanlah diri guru sebagai teman dalam diskusi
c. Komponen keterampilan guru dalam megembangkan pembimbingan kelompok kecil :
# Memperjelas permasalahan
# Menyebarkan kesempatan berpartisipasi
# Pemusatan perhatian
# Menganalisa pandangan peserta didik
# Meningkatkan urutan pikiran peserta didik
# Menutup diskusi
d. Hal-hal yang harus dihindari dalam membimbing diskusi kelompok kecil :
# Melaksanakan diskusi yang tidak sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik
# Tidak memberikan kesempatan yang cukup kepada peserta didik untuk memikirkan pemecahan masalah
# Membiarkan diskusi dikuasai oleh peserta didik tertentu
# Membiarkan peserta didik mengemukakan pendapat yang tidak ada kaitannya dengan topik pembicaraan
# Membiarkan peserta didik tidak aktif
# Tidak merumuskan hasil diskusi dan tiadak membentuk tindak lanjut

Monday, 17 February 2014

Pendidikan Nasional

Sarjana Non Kependidikan Boleh Jadi Guru
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengizinkan sarjana non kependidikan menjadi guru. Nantinya sarjana lulusan di luar FKIP (fakultas keguruan dan ilmu pendidikan) ini akan bersaing dengan sarjana mengambil jurusan kependidikan untuk menjadi guru profesional. 

Kebijakan ini tertuang dalam Permendikbud nomor 87 tahun 2013 tentang Pendidikan Profesi Guru Prajabatan (PPG). Untuk menjadi guru, sarjana non kependidikan diwajibkan mengikuti saringan masuk PPG seperti halnya sarjana kependidikan. Sarjana lulusan di luar FKIP itu bebas mengajar mulai dari jenjang TK, SD, SMP, sampai SMA/sederajat.

Syarat yang dipenuhi sarjana non kependidikan untuk bisa menjadi guru, mereka harus mengikuti dan lulus program matrikulasi sebelum mengikuti PPG. Bagi sarjana pendidikan yang linier atau sesuai dengan mata pelajaran yang bakal diampu dapat langsung mengikuti PPG.

Dilansir oleh SekolahDasar.Net dari JPNN (12/02/2014), Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistyo berpendapat calon guru yang sudah kuliah selama empat tahun di FKIP, sejatinya masih perlu ditingkatkan. Apalagi untuk sarjana non kependidikan, yang baru mendalami urusan kependidikan setelah dia lulus kuliah.

Menurutnya sejak awal calon guru harus memiliki niat yang mantap untuk menjadi guru. Sedangkan sarjana non kependidikan, ketika masuk kuliah belum tentu berniat menjadi guru. Jangan sampai karena tergiur penghasilan yang besar, atau karena sulit mecari pekerjaan sesuai dengan bidang keilmuannya lalu ingin menjadi guru. 

Sumber: http://www.sekolahdasar.net/2014/02/sarjana-non-kependidikan-boleh-menjadi-guru.html#ixzz2tdcBDRoY